TUGAS KELOMPOK PERTEMUAN 5 (Perancang Visual)
Kelompok VIII / 8 (Delapan)
Nama kelompok :
1. Nafisha Najwa Rifanny
2. Muhamad Iqbal
3. Muhammad Febriyansah
4. M. Syahdan
Sinopsis :
Yuna, seorang gadis SMK yang merasa jenuh selama satu tahun berada di rumah. Pandemi Covid-19 ini membuat dirinya nekat mengajak teman-temannya untuk berkumpul di cafe yang jauh dari sekolah. Hingga suatu ketika, Yuna mengalami kenaasan yang membuat dirinya merasa tersiksa. Dan siksaan itulah yang membuat Yuna menyesali perbuatannya seumur hidup.
Naskah :
Tahun 2020 adalah tahun yang menyebalkan bagi semua orang. Pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia membuat aktivitas banyak orang terhenti. Terutama Yuna, gadis SMK yang harus belajar di rumah karena pandemi ini. Setiap hari Yuna melalui hari-harinya hanya di rumah.
Belajar di rumah, mencari ilmu di rumah, mengerjakan tugas sekolah di rumah, bahkan bertemu guru dan teman-teman hanya melalui virtual di handphone. Benar-benar tak menyenangkan, bukan?
Aktivitas itu terus berulang-ulang seiring waktu. Hingga suatu ketika, Yuna benar-benar merasa bosan dan jenuh tinggal di rumah. Gadis berambut hitam sebahu itu mengeluarkan ponselnya. Dalam grup yang bertuliskan “X AKL 1 No Teacher” itu dirinya mengetikkan sesuatu.
Anda:
Kalian, apa gak bosen di rumah terus?
Hanin:
Bosenlah, udah jenuh banget ini di rumah hampir setahun.
Anda:
Gimana kalo kita main satu kelas?
Nindi:
Ayooo. Di Café Juara aja, jauh dari sekolah.
Melva:
Kalian apa gak takut ketauan guru? Lagipula, kan, gak boleh kumpul-kumpul.
Nindi:
Ya elah, tenang. Gak akan ketauan guru. Cafe Juara, kan, jauh dari sekolah. Aku tau kok tempatnya.
Anda:
Ya udah, besok kan weekand, kita ketemuan di Café Juara jam 3 sore, ya.
Akhirnya, kelas X AKL 1 sepakat untuk bertemu di café juara. Yuna menyiapkan pakaian yang akan digunakan besok, dirinya sudah tak sabar untuk bertemu dengan teman-temannya di cafe.
Yuna bangun pagi sekali. Gadis itu keluar dari kamarnya dan menghampiri sang mama yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Ma, hari ini Yuna mau main sama temen Yuna."
"Sama siapa aja?" Tanya sang mama dengan mata yang masih fokus mengoleskan selai cokelat ke roti gandum.
"Sama temen sekelas." Balas Yuna santai, lalu meneguk susu cokelatnya.
"Lagi pandemi gini jangan kumpul-kumpul, bahaya. Nanti kena virus corona."
Mendengar larangan sang mama, Yuna merasa kesal. Setiap ingin ke luar rumah, pasti Yuna selalu dilarang. Kali ini, Yuna tidak mau rencananya batal lagi karena larangan ibundanya.
"Ih, apaan sih! Yuna, kan, pakai masker. Temen-temen juga pakai masker. Disana juga pasti jaga jarak."
"Tapi, Yun.."
"Udah, ah. Yuna mau mandi, terus siap-siap berangkat buat ketemu sama temen Yuna."
"Yuna, Mama gak izinin kamu, Nak. Mama ada di ruang tamu. Kamu gak boleh kumpul-kumpul. Kita, kan, gak tau teman kamu habis bertemu siapa saja."
Yuna melarikan diri ke kamarnya, gadis itu mengunci pintu kamar dari dalam, membuat sang mama tak bisa lanjut menasihatinya. Yuna malas mendengar celotehan ibunya. Semenjak pandemi, setiap kali Yuna mau bertemu temannya pasti selalu dilarang.
Pukul setengah empat sore, Yuna membuka pintu kamarnya perlahan. Ruang tamu sepi, itu artinya sang mama sedang berada di kamar. Dengan langkah yang sangat pelan, Yuna berjalan ke halaman rumahnya dengan hati-hati.
Kini Yuna sudah berada di depan Cafe Juara. Gadis itu mengangkat tangan kirinya, sekarang sudah pukul empat sore. Gadis itu terlambat satu jam. Dari luar cafe, Yuna melihat bahwa teman-temannya sudah berkumpul di dalam. Sontak, Yuna membuka pintu cafe dan menyusuli teman-temannya.
"Hai, guys."
"Lama banget sih kamu, Yun! Kita nungguin kamu tau." Protes Nindi, kesal menunggu Yuna.
"Tau nih, Yuna. Padahal dia yang ngajak main, tapi dia yang ngaret." Sambung Hanin, membuat teman-temannya yang lain ikut protes.
"Aduh, aku juga udah rapi dari jam 2. Tapi aku tunggu Mama ke kamar dulu. Tadi pagi aku udah izin, tapi gak diizinin sama Mama. Jadi aku pergi diam-diam."
Semua temannya mengangguk mengerti, rasa kesal mereka mulai padam saat Yuna menjelaskan semuanya.
Yuna memperhatikan temannya. Semua temannya tidak ada yang mengenakan masker. Mereka juga tidak ada yang menjaga jarak.
"Kalian gak pake masker?"
"Pake. Ini, kan, habis pesan makan, jadi dilepas." Balas salah satu teman Yuna.
"Kalau aku sih pake masker di depan orang tuaku aja."
"Iya. Lagian, aku gak percaya tuh sama covid." Ujar Hanin, memprovokasi.
"Bener banget. Selama ini aku ke luar rumah gak kenapa-kenapa. Sebenernya Covid itu gak ada tau." Sambung Nindi semakin memprovokasi.
Yuna terdiam. Ada benarnya juga apa kata teman-temannya. Buat apa selama satu tahun Yuna di rumah, Covid juga sebenarnya tidak ada.
"Buka aja masker kamu, Yun. Gak akan kenapa-kenapa."
Atas suruhan Nindi disertai dorongan teman-teman Yuna yang lain, akhirnya Yuna melepas maskernya.
"Kamu mau nyobain jus alpukat aku, gak? Enak, lho."
Sebelum Covid menyebar, Yuna dan Hanin adalah teman sebangku. Keduanya sering bertukar makanan dan minuman setiap kali istirahat. Dan sekarang, Hanin meminta Yuna untuk mencicipi jus alpukatnya. Seperti tak pernah terjadi apa-apa, Yuna terbius dengan godaan Hanin. Gadis itu menyeruput jus alpukat yang sebelumnya sudah diminum Hanin.
"Enak, Han. Aku mau pesan juga, ah."
Waktu terus berlalu, sampai mereka tiba untuk berfoto-foto. Pelayan cafe yang mengabadikan momen bahagia mereka. Yuna duduk di antara Hanin dan Nindi. Sebelum kamera terbidik, Hanin sempat terbatuk. Namun, Yuna ataupun Nindi dan teman-teman yang lain, tak ada satupun yang menyadarinya.
Kini cahaya mengkilat dari kamera handphone mulai bersinar, menandakan foto mereka telah dibidik oleh sang pelayan. Satu hari selama di cafe, mereka berbahagia menikmati pertemuannya.
****
Satu minggu berlalu, Yuna merasa tak enak badan. Seluruh tulangnya terasa nyeri, napasnya juga terkadang sesak. Lantas dirinya menghampiri kamar sang Mama.
"Ma, napasku sesak. Badan juga pada sakit."
Sang Mama yang awalnya tengah berbaring, kini mengubah posisinya menjadi duduk. Kasur yang empuk di sebelahnya itu ia pukul pelan, meminta Yuna untuk duduk di sampingnya.
"Mama buatin jamu, ya? Mungkin kamu masuk angin."
"Iya, Ma."
****
Dua minggu berlalu, namun kondisi Yuna masih tak membaik, justru semakin memburuk. Penyakitnya bertambah parah. Kini Yuna tak bisa merasakan makanan dan mencium aroma makanan. Sontak, Yuna panik bukan kepalang.
"Mama! Yuna gak bisa cium bau apa-apa. Yuna habis makan biskuit, gak ada rasanya, Ma!" Teriak Yuna dari dalam kamar seraya menangis.
Sang Mama ikut terkejut, kakinya bergetar. Namun, untuk membuka pintu kamar Yuna pun ibunya tak berani. Merasa tak ada yang bisa dilakukan, wanita paruh baya itu menghubungi dokter kenalannya.
Malam semakin larut. Waktu yang ditunggu-tunggu Mama Yuna. Kini, hasil swab keluar. Melalui pesan email, sang ibunda membuka pesan dari dokter kenalannya itu.
Betapa terkejutnya sang mama saat membaca bahwa anak semata wayangnya positif Covid-19, sementara dirinya sendiri negatif Covid-19. Ibunya semakin panik. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan untuk merawat anaknya.
Dua jam setelah hasil keluar, ambulance khusus orang yang positif Covid-19 mendatangi rumah Yuna. Para dokter menghampiri kamar Yuna dan menjemputnya. Untuk detik ini juga, ibunya harus mendengar keputusan berat.
"Anak Anda harus dirawat di rumah sakit. Karena ia tertular virus Covid-19 dengan kondisi yang sangat parah."
****
Lima hari usai Yuna di rawat di rumah sakit telah berlalu. Hari ini adalah jadual pengambilan raport bayangan. Sudah dua jam Pak Budi menunggu murid-muridnya datang, namun di kelas hanyalah ada Melva, ketua kelas X AKL 1.
"Melva, sebenarnya teman-teman kamu pada kemana?"
Jujur saja, Melva merasa tak nyaman membicarakan ini. Ia tahu semuanya, tapi ia tak bisa membongkarnya karena takut kelas X AKL 1 dijauhi oleh kelas-kelas lain.
Dengan berat hati, laki-laki berkacamata minus itu menceritakan semuanya kepada sang wali kelas.
"Satu kelas kena Covid-19, Pak."
"Hah? Kok bisa bersamaan? Kalian, kan, di rumah terus."
"Sebenernya, kurang lebih dua minggu yang lalu, sekelas pada ketemuan, Pak. Saya sudah larang, tapi mereka bilang gak akan terjadi apa-apa. Saya gak ikut, karena emang waktu itu lagi pusing kepala saya."
"Saya juga gak bisa nahan mereka. Saya sendirian, mereka ada 32. Suara saya kalah, Pak." Ucap Melva lanjut menjelaskan.
"Astaghfirullah." Pak Budi semakin terkejut tatkala mengetahui mereka semua diam-diam bertemu tanpa ia tahu.
"Dan seminggu sesudah ketemuan, Mamanya Hanin bikin status, Pak. Mereka sekeluarga terkena Covid. Saya rasa, awal mulanya dari Hanin. Karena seminggu setelahnya, baru temen-temen yang kena."
Pak Budi menggelengkan kepalanya. Lelaki paruh baya itu merasa sedih, nasihatnya selama ini diabaikan. Ini yang ia takutkan, jika satu orang sudah tertular, maka ada kemungkinan yang lain tertular jika ada kontak fisik.
Kini, tak ada yang bisa Pak Budi lakukan selain mendoakan siswa-siswi kesayangannya.
"Kalau mereka sudah sembuh, kita jenguk mereka sama-sama, ya, Va."
"Iya, Pak."
****
Tiga minggu berlalu, kini teman-teman Yuna mulai sembuh, begitupun dengan Yuna. Mereka ke luar dari rumah sakit bersamaan dengan bahagia. Di sisi lain, Pak Budi menyambut hangat mereka di halaman rumah sakit.
"Pak Budi!!!" Teriak para siswa bersamaan.
Mereka berlari hendak memeluk Pak Budi, namun lelaki paruh baya itu menjauhi diri seraya melambaikan tangannya, pertanda jangan mendekatinya.
"Jauh-jauh, jangan berkerumun. Kalian mau kena Covid lagi?"
Seluruh murid serempak menggeleng, "Nggak, Pak."
"Dari sini kalian harus belajar, kalau corona itu benar-benar ada. Jangan menunggu merasakannya dulu baru percaya."
Jauh di belakang para siswa, Yuna memeluk ibunya erat-erat. Rasa rindu, sedih, menyesal, semuanya membuncah saat ia merasakan hangat pelukan sang Mama.
"Maafin Yuna, Ma. Yuna gak pernah dengerin Mama. Yuna selalu membantah Mama. Yuna pergi diam-diam karena Mama melarang Yuna waktu itu. Yuna menyesal, Ma."
"Covid-19 itu menyiksa, Yuna capek. Saat Yuna di rumah sakit, rasanya Yuna seperti ingin meninggal, Ma. Apalagi saat oksigen Yuna menurun karena sesak, Yuna merasa seakan jantung Yuna akan berhenti berdetak saat itu juga."
"Yuna minta maaf, Ma. Mulai sekarang, Yuna janji akan selalu dengerin nasihat Mama."
Sang Mama tersenyum, air matanya ikut membuncah di depan anak gadisnya. Betapa bahagianya sang Mama saat kembali melihat senyum Yuna, tak seperti beberapa minggu lalu saat anak semata wayangnya menangis panik karena tak bisa mencium dan merasakan apapun.
Virus Covid-19 itu kenyataan, bukan ilusi. Penyakit yang harusnya dipercayai, bukan diabaikan. Boleh waspada, tapi jangan sampai sistem imun turun.
Jutaan orang di dunia yang terpapar virus Covid-19, mereka semua ingin sembuh. Lalu, mengapa kita yang tak pernah merasakannya justru mengabaikan dan tak percaya dengan adanya Covid-19?
Apakah harus merasakan dahulu, baru percaya? Selagi kita tak terpapar Virus Covid-19, jaga diri dari kerumunan. Ikuti protokol kesehatan yang ada. Karena jika sudah merasakan, disitulah rasa menyesal bermunculan.
Covid-19 tak perlu dipikirkan, hanya perlu diwaspadai. Dan sebaliknya, tak perlu merasa ketakutan dengan bersikap berlebihan, namun juga jangan mengabaikan. Karena sesungguhnya, sehat itu mahal.
Storyboard :
Komentar
Posting Komentar